Makalah sosiologi. peranan guru sebagai tenaga pendidik di sekolah
unida.ac.id
unida.ac.id
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan
di sekolah bukan hanya ditentukan oleh usaha murid secara individual atau interaksi
murid dan guru dalam proses belajar
mengajar, melainkan juga oleh interaksi murid dengan lingkungan sosialnya dalam
berbagai situasi sosial yang dihadapinya di dalam maupun di luar sekolah.
Pendidikan dipandang sebagai
sosialisasi, yang terjadi dalam interaksi sosial. Maka karena itu sudah
sewajarnya seorang pendidik harus berusaha menganalisis lapangan pendidikan
dari segi sosiologi, mengenai hubungan antar manusiawi dalam keluarga, di
sekolah, di luar sekolah, dalam masyarakat dan sistem-sistem
sosialnya.
Selain memandang anak sebagai
individu, guru harus pula mempelajarinya sebagai makhluk sosial, sebagai
anggota dari berbagai macam lingkungan sosial.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana Peranan Guru
Sebagai Tenaga Pendidik di Sekolah ?
2. Bagaimana Tugas Guru di Sekolah
?
3. Bagaimana
kedudukan Guru ?
C.
Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
bagaimana Peranan Guru di Sekolah dan
penulisan makalah ini juga untuk memenuhi tugas dari dosen pengampu Sosiologi Pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Peranan Guru Sebagai Tenaga
Pendidik di Sekolah
Peranan guru di sekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa,
sebagai pengajar, pendidik, dan sebagai pegawai. Yang paling utama ialah
kedudukannya sebagai pengajar dan pendidik, yakni sebagai guru. Berdasarkan
kedudukannya sebagai guru ia harus menunjukkan kelakuan yang layak bagi guru
menurut harapan masyarakat. Apa yang dituntut dari guru dalam aspek etis,
intelektual dan sosial lebih tinggi daripada yang dituntut dari orang dewasa
lainnya. Guru sebagai pendidik dan pembina generasi muda harus menjadi teladan,
di dalam maupun di luar sekolah. Guru harus senantiasa sadar akan kedudukannya
selama 24 jam sehari. Di mana dan kapan saja ia akan selalu dipandang sebagai
guru yang harus memperlihatkan kelakuan yang dapat ditiru oleh masyarakat,
khususnya oleh anak didik.
Penyimpangan
dari kelakuan yang etis oleh guru mendapat sorotan dan kecaman yang lebih
tajam. Masyarakat tidak dapat membenarkan pelanggaran-pelanggaran seperti
berjudi, mabuk, pelanggaran seks, korupsi atau mengebut, namun kalau guru
melakukannya maka dianggap sangat serius. Guru yang berbuat demikian akan dapat
merusak murid-murid yang dipercayakan kepadanya. Orang yang kurang bermoral
dianggap tidak akan mungkin menghasilkan anak didik yang mempunyai etika
tinggi.
Sebaliknya
harapan-harapan masyarakat tentang kelakuan guru menjadi pedoman bagi guru.
Guru-guru memperhatikan tuntutan masyarakat tentang kelakuan yang layak bagi
guru dan menjadikannya sebagai norma kelakuan dalam segala situasi sosial di
dalam dan di luar sekolah. Ini akan terjadi bila guru menginternalisasi
norma-norma itu sehingga menjadi bagian dari pribadinya. Ada norma-norma yang
umum bagi semua guru di suatu negara, ada pula yang ditentukan oleh norma-norma
yang khas yang berlaku di daerah tertentu menurut
adat istiadat yang terjadi dilingkungan itu.
a.
Peranan Guru
Sehubungan dengan Murid
Peranan guru dalam hubungannya dengan murid
bermacam-macam menurut situasi interaksi sosial yang dihadapinya, yakni situasi
formal dalam proses belajar mengajar dalam kelas dan dalam situasi informal.
Dalam situasi formal, yakni dalam usaha guru mendidik dan
mengajar anak dalam kelas guru harus sanggup menunjukkan kewibawaan atau
otoritasnya, artinya ia harus mampu mengendalikan, mengatur, dan mengontrol
kelakuan anak. Kalau perlu ia dapat menggunakan kekuasaannya untuk memaksa anak
belajar, melakukan tugasnya atau mematuhi peraturan. Dengan kewibawaan ia
menegakkan disiplin demi kelancaran dan ketertiban proses belajar mengajar.
Pendidikan
kewibawaan merupakan syarat mutlak. Mendidik ialah membimbing anak dalam
perkembangannya ke arah tujuan pendidikan. Bimbingan atau pendidikan hanya
mungkin bila ada kepatuhan dari pihak anak dan kepatuhan diperoleh bila
pendidik mempunyai kewibawaan. Kewibawaan dan kepatuhan merupakan dua hal yang
komplementer untuk menjamin adanya disiplin.
b.
Pearanan Guru dalam
Masyarakat
Peranan guru dalam masyarakat antara lain bergantung pada
gambaran masyarakat tentang kedudukan guru. Kedudukan sosial guru berbeda dari
negara ke negara, dari zaman ke zaman. Pada zaman Hindu, misalnya guru
menduduki tempat yang sangat terhormat sebagai satu-satunya sumber ilmu. Murid
harus datang kepadanya untuk memperoleh ilmu sambil menunjukkan baktinya.
Demikian pula guru-guru silat di Cina sangat dijunjung tinggi oleh
murid-muridnya. Di Yunani kuno guru itu diambil dari golongan
hamba. Pada zaman VOC yang menjadi guru adalah orang-orang yang ada
pengetahuannya sedikit seperti tukang sepatu, tukang pangkas, orang yang
menguburkan mayat.
B. Tugas Guru di Sekolah
1. Guru Sebagai Pendidik
Guru harus
dapat menempatkan dirinya
sebagai teladan bagi
siswanya. Teladan di sini bukan berarti bahwa guru harus
menjadi manusia sempurna yang
tidak pernah salah.
Guru adalah manusia
biasa yang tidak
luput dari kesalahan. Tetapi
guru harus berusaha
menghindari perbuatan tercela
yang akan menjatuhkan harga
dirinya. Karena ia
berhadapan langsung dengan mereka
yang otomatis menjadi contoh dalam berperilaku dan bertata krama dan
menghargai sesama. Hal ini sangat penting terutama untuk guru tk, dan
SD sebagai
pembentuk mental pertama siswa.
Guru
harus mengenal siswanya. Bukan saja mengenai kebutuhan, cara belajar dan gaya
belajarnya saja. Akan tetapi, guru harus mengetahui sifat, bakat, dan minat masing-masing
siswanya sebagai seorang
pribadi yang berbeda
satu sama lainnya.Guru harus
mampu memberikan motivasi
pada setiap siswa yang
mereka didik, guru
harus memberikan semangat
dan menjadi sumber energi untuk para muridnya. Bagi murid
yang sedang lesu dan lemas, maka guru harus memberikan solusi sebagai
penyemangat.
Guru
harus mengatahui metode-metode penanaman nilai dan bagaimana menggunakan metode-metode
tersebut sehingga berlangsung
dengan efektif dan efisien.
Guru yang notabanenya
lebih tua daripada
muridnya harus mampu sebagai
pendidik dan menjadikan
perilaku murid sesuai
dengan ajaran yang baik
dan benar. Bagaimana
guru mendidik para
siswanya agar menjadi manusia
yang berguna bagi
nusa dan bangsa.
Guru harus memberikan cara
belajar efektif dan efisien serta cara
menghafal cepat untuk muridnya. Guru
menjadi pendidik bagaimana
cara menjadi pintar
untuk muridnya.
Guru harus
memiliki pengetahuan yang
luas tentang tujuan
pendidikan Indonesia pada
umumnya, sehingga memberikan
arah dalam memberikan bimbingan kepada siswa. Dalam
memberikan pelajaran dan pendidikan guru harus
memberikan materi dengan
metode baru dan
mengembangkan ilmu
pengetahuan. Contoh adalah
bagaimana guru mengajarkan
metode dan cara meningkatkan daya
ingat otak dalam menerima
pelajaran. Mengembangkan
ilmu yang dikuasai
merupakan tugas dosen
dan tenaga pendidik
lainnya seperti guru.
Guru harus
memiliki pengetahuan yang
luas tentang materi
yang akan diajarkan. Selain
itu guru harus
selalu belajar untuk
menambah pengetahuannya, baik
pengetahuan tentang materi-materi
ajar ataupun peningkatan
keterampilan mengajarnya agar lebih profesional.
2.
Guru Sebagai Pendamping
Tugas
guru selanjutnya adalah sebagai pendamping, maksudnya di sini adalah bagaimana
seorang guru menjadi orang tua di sekolah.
Ia harus memberikan solusi dan jalan
jika muridnya ingin
melakukan sesuatu dan
ingin mengembangkan serta berpartisipasi dalam acara serta
kejuaraan tertentu.
Guru harus
menjadi wali yang
baik untuk muridnya,
ia harus berusaha mengetahui kondisi
para muridnya dan
berperan aktif untuk
mencari solusi atas kesulitan
tersebut. Ia harus
memberikan solusi seperti
cara menghindari stress saat belajar dan
berbagai masalah lain
yang muridnya hadapi.
Tugas guru sebenarnya adalah menjadi orang tua wali yang
baik bagi siswanya.
C. Keduduan Guru di
Sekolah
Kedudukan
guru juga ditentukan oleh fatwa bahwa ia orang dewasa. Dalam masyarakat kita
orang yang lebih tua harus dihormati. Oleh sebab guru lebih tua daripada
muridnya maka berdasarkan usianya ia mempunyai kedudukan yang harus dihormati, apalagi
karena guru juga dipandang sebagai pengganti orang tua. Hormat anak terhadap
orang tuanya sendiri harus pula diperlihatkannya terhadap gurunya sebaliknya
guru harus pula dapat memandang murid sebagai anak.
Ada
anggapan bahwa dewasa ini rasa hormat anak muda terhadap orang tua makin
merosot. Erosi kewibawaan orang tua mungkin disebabkan olel peranan generasi
muda dalam revolusi kemerdekaan, oleh pengaruh kebudayaan asing, oleh sikap
kritis pemuda, oleh ketidakmampuan orang tua mempertahankan kedudukan yang
dipegangnya, sediakala dalam dunia peodal patriarkal yang sediakala dalam dunia
demokrasi industrial yang modern.
Sebagai
pegawai kedudukan guru ditentukan oleh pengalaman kerja, golongan, ijazah, dan
lama kerjanya.
D.
Dalil
Al-Qur’an tentang Peranan Guru
Guru adalah seorang pendidik sebagai
insan yang mulia dan berjasa karena merekalah yang bertanggung jawab mendidik
manusia bagi melahirkan generasi muslimyang beriman dan beramal sholeh serta
sanggup melaksanakan tugas terhadap diri, keluarga, masyarakat dan negara. Guru
dalam sejarah hidupnya senantiasa menghargai kejayaan anak didiknya serta
sanggup berkorban dan melakukan apa saja untuk manfaat dan kesejahteraan orang
lain. Firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an yang berbunyi :
يرفع الله الذين ءامنوا منكم والذين أوتوا العلم درج
Artinya
:”Supaya Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan agama (dari kalangan kamu) beberapa
derajat.” (QS. Al-Mujadalah :11)
Peranan guru adalah luas. Guru
adalah pendidik, pembimbing dan pendorong. Dia juga penyampai ilmu, penggerak
dan penasehat. Ini bermaksud, guru atau pendidik mempunyai tugas dan
tanggungjawab yang menjabar, kepentingan peranan guru itu memang tidak dapat
dinafikan karena boleh dikatakan setiap ahli masyarakat pada zaman ini melalui
pendidikan yang dibrikan oleh guru.
Islam memandang guru yang
melaksanakan tugas tarbiyah sebagai pekerjaan yang sungguh mulia, seluruh masa
yang digunakan dicatat sebagai ibadah. Setiap langkah dari rumah ke sekolah dan
pulang ke rumah dari sekolah akan mendapat satu pahala dan dihapuskan satu
dosa. Menyampaikan ilmu secara hikmah dan ikhlas semata-mata karena Allah
merupakan jihad yang paling tinggi pada pandangan islam.
Firman Allah SWT dalam surah An-Nahl
ayat 125 yang artinya : “serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan
hikamah kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan
mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik.”
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Peranan guru di sekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa,
sebagai pengajar, pendidik, dan sebagai pegawai. Yang paling utama iyalah
kedudukannya sebagai pengajar dan pendidik, yakni sebagai guru. Berdasarkan
kedudukannya sebagai guru ia harus menunjukkan kelakuan yang layak bagi guru
menurut harapan masyarakat. Apa yang dituntut dari guru dalam aspek etis,
intelektual dan sosial lebih tinggi daripada yang dituntut dari orang dewasa
lainnya.
Peranan guru dalam hubungannya dengan murid bermacam-macam menurut situasi
interaksi sosial yang dihadapinya, yakni situasi formal dalam proses belajar
mengajar dalam kelas dan dalam situasi informal.
Peranan guru dalam masyarakat antara lain bergantung pada
gambaran masyarakat tentang kedudukan guru. Kedudukan sosial guru berbeda dari
negara ke negara, dari zaman ke zaman. Pada zaman Hindu, misalnya guru
menduduki tempat yang sangat terhormat sebagai satu-satunya sumber ilmu.
Guru Sebagai Pendidik
Guru harus dapat
menempatkan dirinya sebagai
teladan bagi siswanya. Teladan di sini bukan berarti
bahwa guru harus menjadi manusia sempurna yang tidak
pernah salah.
Guru
Sebagai Pendamping
Tugas
guru selanjutnya adalah sebagai pendamping, maksudnya di sini adalah bagaimana
seorang guru menjadi orang tua di sekolah.
Ia harus memberikan solusi dan jalan
jika muridnya ingin
melakukan sesuatu dan
ingin mengembangkan serta berpartisipasi dalam acara serta
kejuaraan tertentu.
Kedudukan guru juga ditentukan oleh fatwa bahwa ia orang
dewasa. Dalam masyarakat kita orang yang lebih tua harus dihormati. Oleh sebab
guru lebih tua daripada muridnya maka berdasarkan usianya ia mempunyai
kedudukan yang harus dihormati, apalagi karena guru juga dipandang sebagai
pengganti orang tua. Hormat anak terhadap orang tuanya sendiri harus pula
diperlihatkannya terhadap gurunya sebaliknya guru harus pula dapat memandang
murid sebagai anak.
Saran
Makalah ini kami akui masih
banyak banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh
karena itu harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bafadal,
Ibrahim. 2003. Peningkatan
Profesionalisme Guru Sekolah
Dasar dalam
Kerangka
Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah. Jakarta. Bumi
Aksara.
Daryanto, 2009, Panduan Proses Pembelajaran,
Cerdas Pustaka, Surabaya.
Depdiknas,
2008, Pedoman Pemberian Subsidi
Peningkatan Kualifikasi Guru
ke
S1/D4 Depdiknas, 2009, TOT KTSP, PMPTK, Jakarta.
Pantiwati,Y.
2001. Upaya peningkatan
profesionalisme Guru Melalui
Program
sertifikasi
Guru Bidang Studi
(untuk guru MI
dan MTs). Makalah
dipresentasikan, Malang, PSSJ PPs Universitas Malang.
Rustiyah NK. 1986. Masalah-masalah Ilmu Keguruan.
Jakarta. Bina Aksara.
Semiawan,C.R.
1999. Mencari Strategi
Pengembangan Pendidikan Nasional
Menjelang Abad XXI. Jakarta. Grasindo.
Buku Sosiologi Pendidikan oleh Prof. Dr. S. Nasution,
M.A.
.png)
